usul buat pemerintah


BBM naik… BBM naik…. BBM naik….

gitu jerit masyarakat miskin di Indonesia akhir – akhir ini. pemerintah sibuk mikirin anggaran dana, takut jebol kalo terus subsidi katanya, tapi disisi lain kalo nggak disubsidi masyarakat keteteran.

Katanya kalo nggak disubsidi, suku bunga naik dan menyebabkan inflasi, nah dari situ semua bahan – bahan pokok dan nggak pokok ikut naik apalagi bahan industri dan bahan bakar industri juga ikut naik. Ongkos produksi naik, sedangkan order tetap segitu aja atau bahkan berkurang gara – gara harga naik. akhirnya banyak pemutusan hubungan kerja yang menyebabkan beratus ribu buruh yang ada di Indonesia ini kembali menjadi pengangguran.

Dikala pemerintah sibuk mikirin anggaran yang bakalan jebol, rakyat mikirin dapur yang nggak lama lagi berhenti ngebul waduh pusing…. dari situ akan muncul masalah baru, apa itu? gizi buruk bertambah, kelaparan dimana – mana, angka kemisikinan bertambah,banyak penganggur frustasi, angka kematian bunuh diri meningkat, negara kacau balau, banyak kerusuhan, negara nggak stabil, kacau balau akhirnya diambil alih sama Amerika keparat… weks jangan sampe deh naudzubilahimindzalik.

Pemerintah yang bijaksana, aku punya usul nih…mudah2an ada yang mampir ke blog ini untuk menyebar luaskan ke segala penjuru. atau pak SBY liat Blogku, pembantunya juga gak papa (dengan harapan abis itu ngasih tau pak SBY) atau JK.

Sekarang kan pemerintah itu lagi giat -giatnya membiayai poyek riset bahan bakar bio, yang setahu saya budgetnya seabrek abrek (kalo dikasihin ke aku mau tak buat nyewa kandang ayam yang lebih gede). yang paling terdengar santer adalah bioetanol untuk bahan bakar entah itu dari singkong, ataupun dari jarak.

Kita ambil contoh aja ubi kayu (singkong) Produksi ubi kayu nasional mencapai sekitar 15 juta ton (BPS, 2000 dalam Saleh dan Hartoyo, 2001) dan produksi Jawa Timur pada tahun yang sama mencapai 3.940.386 ton (Anonim,2000 dalam Suhardi dkk. 2002). Sedangkan tahun 2006 19,42 juta ton yang didapat dari 1,25 juta hektar areal penanaman, sehingga produktivitas per hektar adalah 15,5 ton/ha. Ubi kayu di Indonesia digunakan untuk pangan sebesar 55 % untuk pakan 1,8 % untuk industri non pakan 8,6 % untuk tapioka 19,8 % dan untuk keperluan ekspor 14,8 % (Romli, 2003).

Nah segitu besarnya potensi bioetanol kita, itu baru dari ketela pohon, nah yang dari jarak, alpuket, limbah kandang,dan semua bahan yang bisa kita jadikan bahan bakar kita optimalkan insyaAlloh kita nggak kekurangan bahan bakar, apalagi sampai kebobolan anggaran negara. sebenernya anggaran kita udah lama kok jebol, sama tikus – tikus berwujud manusia hehehehe.

Gimana usul saya pemerintah, dukung gerakan biobahan bakar sehingga kita tidak bergantung pada harga minyak dunia karena kita bisa produksi sendiri kebutuhan kita… pergunakan sarjana – sarjana, magister2 dan doktor bahkan professor(yang dari ITB, UI, UNIBRAW,UGM, UII juga jangan lupa diikut sertakan hamba siap membantu sepenuh jiwa dan raga asal) negara kita jangan dibuang – buang tapi difasilitasi, trus hasil risetnya dikembangkan di dunia industri.

Kita akan swasembada lagi bukan dibidang pangan aja, teknologi (nggak cuma menghasilkan gatotkaca N235, mungkin besok kita bisa bikin pesawat jet merk GUNDALA PUTRA PETIR, ngeri nggak tuh), energi kita pake nuklir biar hemat dan tahan lama, nggak pake BBM lagi lebih irit biar PLN nggak bisa bilang rugi lagi),pendidikan dan lain – lain…..

sekian usul saya, semoga membuka pandangan……..
yang salah dari saya yang bener cuman dari ALLOH SWT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s