Nilam (Pogostemon cablin)

Berbicara tentang minyak atsiri Indonesia, tentu kita tidak akan terlepas dari salah satu primadona minyak atsiri yang sebagian besar di supplai petani dan penyuling Indonesia. Nilam, tumbuhan perdu ini menghasilkan minyak atsiri dengan kandungan utamanya patchoulol atau nama lainnya patchouli alcohol. Kegunaan utamanya dalam industry flavor & fragrance adalah sebagai fixative aroma, sebagai fragrance. Sedangkan di dunia farmasi digunakan sebagai aprodisiak, antibakteri, stimulus tumbuhnya rambut, anti inflamasi dan mengurangi kerutan pada kulit.

Nilam dapat tumbuh diseluruh wilayah Indonesia. Pembibitan dan pembudidayaanya cukup mudah karena tanaman ini sangat dapat beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Memiliki akar serabut  dan cabang batang yang cukup banyak. Dapat diperbanyak menggunakan stek batang, tunas maupun perbanyakan secara runduk. Baca Selengkapnya 

 

Iklan

Meningkatkan Presentasi PA pada Nilam

Sesuai judulnya, sekarang saya mau bahas tentang bagaimana meningkatkan nilai presentasi Patchouli Alcohol dalam minyak nilam. Seperti kita ketahui bahwa PA merupakan senyawa marker atau penanda pada minyak nilam. Keberadaan presentasinya mempengaruhi nilai jual beli minyak ini (di luar naik turunnya harga hehehe).

Sudah banyak yang mencoba mengembangkan varietas  baru dalam tanaman nilam ini, dan sebagian besar mengembangkan melalui jalur budidaya. disini saya mau mengutarakan hasil penelitian saya dan teman2 di Pusat Study Minyak Atsiri UII dalam meningkatkan nilai PA dari segi pasca panen dan produksi.

Dari hasil peneitian yang dilakukan, kami mendapatkan peningkatan nilai PA yang cukup signifikan. Dengan mengembangkan teknik water bubble distillation  yang sudah dikembangkan sebelumnya oleh Prof. Dr. Hans J Siwon, kami mendapatkan Angka PA diatas rata2 yakni sekitar angka 43% dengan bahan baku dari Jepara yang rata- rata memiliki Angka PA di kisaran 27 – 31%.

 Peak 16 dan 17 merupakan kromatogram dari senyawa Patchouli alkohol dengan kadar 43%.

Teknik water bubble ini menggunakan uap panas untuk mendidihkan air dalam retort (dalam hal ini sebenarnya dasarnya adalah water distillation) kemudian diberikan pengaduk didalamnya sehingga material yang disuling bergerak sempurna. fungsi gerakan dari material supaya pengangkatan minyak oleh uap air lebih sempurna dan merata. Minyak yang dihasikan nantinya lebih kental alias viskositasnya lebih tinggi.

Selain itu juga pada proses pra produksi atau waktu penyiapan bahan. Material yang akan di suling sebaiknya di kominusi (rajang kecil2) terlebih dahulu, namun ada baiknya di kominusi setelah kering angin, jangan terlalu kering. Ada baiknya di gantung jangan jemur langsung di terik matahari (kebanyakan di daerah Sulawesi dijemur langsung dan dicacah saat basah).

PEnjemuran yang baik

Setelah di kominusi, ada baiknya untuk dilakukan fermentasi kecil, namun jangan terlalu lama (jangan sampai busuk). perlakuan fermentasi ini akan meningkatkan kadar dan memberikan aroma yang lebih manis terhadap minyak nilam, berikut percakapan saya dengan Robert Seidel pemiliki The Essential Oil Company  yang juga menyarankan penggunaan fermentasi :

Penjelasan fermentasi ada di akhir screen shoot

Perlakuan tersebut sudah berlaku di India, dan menurutnya itu merupakan alasan mengapa aroma India saat ini mulai disukai di US. dan bila dicoba mungkin akan memberikan dampak yang baik bagi perkembangan kualitas minyak nilam Indonesia. Selamat mencoba.

* Percobaan penyulingan skala lab by : Resi Arie Andhini, S.Si  Ilmu Kimia UII 2006

*Percobaan semi industri by : Martsiano