menyuling jahe

Jahe yang akan kita suling adalah jahe emprit atau sering di sebut jahe putih kecil. mengapa memilih jahe jenis ini??? karena jahe jenis ini kandungan minyak paling banyak diantara beberapa jenis lainnya.

Kandungan kimianya yang utama adalah zingiberen dan kamfen.

Pada percobaan yang telah saya lakukan saya telah melakukan beberapa kali percobaan dan beberapa kali variasi perlakuan, antara lain :

  1. parut rebus
  2. parut steam
  3. rajang steam
  4. rajang rebus
  5. rajang kukus
  6. gepruk rebus
  7. gepruk steam

Dari hasil percobaan didapati parut rebus memiliki spesifikasi yang sesuai dengan spesifikasi Europe Essential Oil Association. Putaran optik yang dihasikan dari sitem rebus ini diperoleh negatif, berbeda jika menggunakan cara steam distillasi, akan didapatkan putaran optik positif. Selain itu, warna yang dihasilkan dari sistem rebus adalah light yellow, atau kuning jernih aromanya kuat namun lembut. Untuk Sistem steam distilatsi, warna minyak coklat gelap aroma “nyegrak”.

Namun kendala yang ada adalah, untuk proses rebus harus menghadapi kendala gosong, karena material langsung bersentuhan dengan pantat ketel, hal ini disebabkan karena bahan tidak bergerak. Solusi untuk sistem rebus ini dapat diganti dengan sistem Hidroagitasi atau menambahkan pemutar ke dalam ketel bahan baku. Rendemen yang dihasikan 4 Jam sebelum gosong adalah 0.7 % setelah gosong masih didapatkan minyak hingga 0.6% jadi total minyak 1.3% jika tidak gosong semua.

Jadi dari 100 Kg bahan baku jahe segar akan mendapatkan 1.3 Kg minyak jahe. Jika harga bahan baku jahe emprit per Kg Rp 5000,- maka untuk 100 Kg membutuhkan biaya Rp 500.000,- dan untuk biaya suling (bahan bakar, pekerja packing) Rp 150.000,- jadi total biaya produksi Rp 650.000,- harga jual minyak jahe dengan tipe ini per Kg Rp 800.000,-(harga dari salah satu eksportir di semarang) jadi hasil yang diperoleh dari 100 Kg minyak jahe dengan sistem rebus Rp 1.040.000,- keuntungan bersih sekitar Rp 390.000,-.

Berbeda dengan menyuling jahe dengan sistem steam, dari jahe segar hanya akan didapatkan 0.3% rendemen minyak, karena pada proses distilasi ini, uap panas menyebabkan aglutinasi pada jahe sehingga menyebabkan terhalangnya minyak terbawa oleh uap. Namun jika menyuling ampas jahe tumbuk yang sudah dikeringkan akan diperoleh rendemen 2.8% (kalo Balittro katanya bisa sampai 3%). aroma yang dihasilkan sedikit lebih manis. warnanya coklat gelap. harga pasaran untuk minyak jenis ini kisaran Rp 400.000,- hingga Rp 550.000,-.

Asumsi jika kita membeli ampas jahe dari limbah industri jamu per Kg Rp 500,- susut 20% per/kg karena kehilangan air jadi untuk 1 Kg bersih butuh Rp 600,- untuk 100 Kg Rp 60.000,- biaya penyulingan bahan bakar, packing dan pekerja Rp 320.000 (biaya disini akan lebih efisien jika menyuling tidak hanya 100 Kg). total biaya produksi adalah Rp 380.000,- Asumsi rendemen 2.8% maka dari 100 Kg kita mendapatkan minyak jahe sebanyak 2.8 Kg harga per Kg kita ambil yang paling rendah yakni Rp 400.000,-, maka kita memperoleh hasil sebanyak Rp 1.120.000,-. Untung yang didapat lumayan juga, namun biaya bahan baku terkadang melambung tinggi. harga diatas asumsi pabrik jamu jogjakarta khususnya daerah Sleman dan Bantul (ada juga yang ngasih gratisan).

berikut gambar hasil percobaan yang telah saya lakukan :

buat-blog1jahe yang gosong

namun selain minyaknya, jahe juga dapat diambil oleoresin dan patinya, untuk memperoleh oleoresin jahe diekstrak dengan pelarut menguap. sedangkan untuk patinya di press dengan fisik. keduanya juga mempunyai nilai ekonomis yang bagus, tidak kalah dengan minyak jahe.

Kendalanya adalah memperoleh bahan baku jahe yang sesuai dengan kualitas yang kita butuhkan, mengingat terkadang terdapat jahe lain jenis yang ikut tersuling.

Jadi, ada yang mau nyulinga jahe???? mau? mau ?